Seorang anak yang tersandung kasus narkoba tega menjerumuskan ibunya sendiri dalam kasus yang sama.

Seorang anak yang tersandung kasus narkoba tega menjerumuskan ibunya sendiri dalam kasus yang sama

Anak laki-laki yang kini sedang menjalani hukuman selama 5 tahun di Lapas Magelang, awalnya tertangkap petugas kasus narkoba di wilayah hukum Polresta Surakarta.

Saat ditahan, seorang anak berinisial L tersebut kerap membuat ibunya kesulitan untuk mencukupi kebutuhan L selama menjalani hukuman di lapas.

“Sang anak kemudian menjerumuskan ibunya kedalam perdagangan barang terlarang yakni memperkenalkan ibunya dengan seorang bandar narkoba berinisial Df yang kini masih dalam pencarian oleh anggota,” jelas Kasat Narkoba Polresta Surakarta, Kompol Joko Satrio Wibowo dalam ungkap kasus di Polresta Surakarta, Selasa (19/1) siang.

Selama ibu berinisial SW disebut-sebut sebagai pengedar karena dicurigai sudah berkali-kali melakukan transaksi dengan pembeli. Adapun nilai nominal transaksi bervariatif sesuai permintaan pelangan untuk memesan SS. Dimana SW menerima SS dari Df.

Ibu dan anak yang terlibat kasus narkoba itu sebagai rangkaian penanganan kasus serupa yang diungkap jajaran Satnarkoba sejak awal Januari hingga Selasa (19/1)

Dalam rentang waktu itu, lanjut Joko Satrio, ada tujuh tersangka narkoba yang dapat ditangkap anggotanya.

Dalam penangkapan para tersangka tersebut, lanjut Joko Satrio, ada satu modus baru yang dibongkar yakni bandar narkoba yang masih buron mempekerjakan orang lain yang tidak memiliki pekerjaan, termasuk melibatkan SW sebagai pengedar.

Hal itu terungkap berdasar pengakuan salah satu tersangka yakni Rio Mada Asmara.

Rio yang tidak memiliki pekerjaan, tugasnya memecah barang (sabu) ke dalam paket plastik kecil untuk diedarkan.

Setelah itu, dia mengantar ke titik pesanan narkoba sesuai lokasi yang ditentukan bandarnya.

Menurut Kompol Joko Satrio, ini modus baru. Sebab, ada hitungan nilai jasa antar setiap titik untuk penempatan narkoba.

Adapun dari tujuh tersangka yang diamankan di sejumlah lokasi, petugas telah menyita sejumlah barang bukti (BB) diantaranya 52,45 gram sabu-sabu (SS), alat hisap, timbangan, dan handphone yang digunakan untuk transaksi.

Para tersangka dalam kasus ini, kata Kasat Narkoba mewakili Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak, Sik.MSi dijerat dengan pasal 114 ayat 1 dan 2 dan pasal 112 ayat 1 serta pasal 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang penyalahgunaan narkotika dengan ancaman hukuman 4 hingga 5 tahun penjara.

Seorang anak yang tersandung kasus narkoba tega menjerumuskan ibunya sendiri dalam kasus yang sama.

Anak laki-laki yang kini sedang menjalani hukuman selama 5 tahun di Lapas Magelang, awalnya tertangkap petugas kasus narkoba di wilayah hukum Polresta Surakarta.

Saat ditahan, seorang anak berinisial L tersebut kerap membuat ibunya kesulitan untuk mencukupi kebutuhan L selama menjalani hukuman di lapas.

“Sang anak kemudian menjerumuskan ibunya kedalam perdagangan barang terlarang yakni memperkenalkan ibunya dengan seorang bandar narkoba berinisial Df yang kini masih dalam pencarian oleh anggota,” jelas Kasat Narkoba Polresta Surakarta, Kompol Joko Satrio Wibowo dalam ungkap kasus di Polresta Surakarta, Selasa (19/1) siang.

Selama ibu berinisial SW disebut-sebut sebagai pengedar karena dicurigai sudah berkali-kali melakukan transaksi dengan pembeli. Adapun nilai nominal transaksi bervariatif sesuai permintaan pelangan untuk memesan SS. Dimana SW menerima SS dari Df.

Ibu dan anak yang terlibat kasus narkoba itu sebagai rangkaian penanganan kasus serupa yang diungkap jajaran Satnarkoba sejak awal Januari hingga Selasa (19/1)

Dalam rentang waktu itu, lanjut Joko Satrio, ada tujuh tersangka narkoba yang dapat ditangkap anggotanya.

Dalam penangkapan para tersangka tersebut, lanjut Joko Satrio, ada satu modus baru yang dibongkar yakni bandar narkoba yang masih buron mempekerjakan orang lain yang tidak memiliki pekerjaan, termasuk melibatkan SW sebagai pengedar.

Hal itu terungkap berdasar pengakuan salah satu tersangka yakni Rio Mada Asmara.

Rio yang tidak memiliki pekerjaan, tugasnya memecah barang (sabu) ke dalam paket plastik kecil untuk diedarkan.

Setelah itu, dia mengantar ke titik pesanan narkoba sesuai lokasi yang ditentukan bandarnya.

Menurut Joko Satrio, ini modus baru. Sebab, ada hitungan nilai jasa antar setiap titik untuk penempatan narkoba.

Adapun dari tujuh tersangka yang diamankan di sejumlah lokasi, petugas telah menyita sejumlah barang bukti (BB) diantaranya 51,17 gram sabu-sabu (SS), alat hisap, timbangan, dan handphone yang digunakan untuk transaksi.

Para tersangka dalam kasus ini, kata Kasat Narkoba mewakili Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak, dijerat dengan pasal 114 ayat 1 dan 2 dan pasal 112 ayat 1 serta pasal 2 UU No 35 Tahun 2009 tentang penyalahgunaan narkotika dengan ancaman hukuman 4 hingga 5 tahun penjara.